Now Playing Tracks

Mencari Orang

Saya tidak sedang memilih Tuhan nan maha sempurna.

Saya sedang mencari pemimpin, untuk lima tahun kedepan.

Orang yang saya percaya akan mengemban mandat yang saya berikan. Orang yang saya percaya bisa memecahkan banyak persoalan negara. Orang yang etos utamanya adalah melayani, bukan dilayani. Orang yang saya bisa saya hukum saat dia lancung dalam bekerja.

Iya, orang. Bukan Tuhan.

Dan akhirnya saya tahu kalau saya tidak punya pilihan lain. Dari dua calon yang ada, sayangnya hanya satu yang bisa.

Saya memilihnya bukan karena dia sempurna. Justru dia manusia biasa yang banyak sekali kelemahannya.

Tapi dia mau bekerja, berusaha memecahkan banyak persoalan negara. Pastinya dengan ditingkahi kesalahan langkah di sana-sini. Tapi terlihat betul kalau dia mau bekerja.

Iya, dia didampingi orang yang sungguh saya benci.

Dia diajukan oleh partai yang walaupun secara ideologi dekat dengan yang saya percaya, tapi dipimpin oleh orang-orang yang saya kenal betul dan sungguh tidak saya percayai.

Dan di belakangnya, datang dari berbagai arah, berdiri wajah-wajah yang ingin saya ludahi. Ada pula Jenderal berlumuran darah yang seharusnya ada dalam penjara.

Tapi ada satu hal penting yang membuat saya akan memilihnya: Saya tahu kalau dia bisa dihukum kalau berani lancung saat bekerja.

Saya ingin mempertahankan hak saya untuk menghukum kepala negara. Saya ingin mempertahankan hak saya untuk bicara. Saya ingin mempertahankan hak hidup mereka yang berbeda.

Saya, ingin pemimpin yang benar-benar percaya pada daulat sipil.

Sementara calon yang satunya, yang tidak akan pernah saya pilih, diajukan dan didukung oleh banyak partai yang secara ideologi jauh dari saya. Di belakangnya, datang dari berbagai arah, berdiri wajah-wajah yang juga ingin saya ludahi. Didukung pula oleh banyak Jenderal yang berlumur darah. Dan tangan sang calon tak kalah berlumur darah.

Satu hal yang membedakan: kenyataan bahwa hingga saat ini, tidak ada yang berhasil menghukumnya atas kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan yang pernah dilakukannya. Kalau begitu, bagaimana nanti saya, kita, bisa menghukumnya kalau lancung saat bekerja menjadi pemimpin negara? Kelihatannya tak akan pernah bisa.

Makanya saya memilih yang satunya.

Dia bukan Tuhan. Dia orang biasa. Dia banyak dosa.

Tapi dia sipil, tanpa senjata.

Dan sekali lagi: kita bisa menghukumnya kalau berani lancung saat bekerja.

Saya memilih Jokowi.

Tentang Penggemar AKB48

Tulisan yang gak pernah selesai. Bodo ah… posting aja dulu… tar kapan-kapan di-edit dan ditambahin lagi.

Okelah…
Akhirnya gue menulis tentang keluarga AKB48 setelah beberapa bulan ini menonton berbagai video mereka, mulai dari Promotional Video, Dokumenter, Konser, Acara TV, Dll. Membaca berbagai forum dan wiki. Mendengarkan lagu-lagu mereka. Berbicara langsung dengan para Wota.

Apa itu Wota? Silakan baca artikel ini: http://www.japantimes.co.jp/life/2005/01/16/to-be-sorted/wota-lota-love/#.UcqPiz4Y1ko

Kesimpulan pertamanya: Seru.

Tapi ada pertanyaan yang banyak disebut oleh non-Wota: Kenapa penggemar AKB48 dan JKT48 begitu fanatik dan terobsesi?

Sebenarnya, paling enak sih nanya ke Wota dari Jepang, tapi gue belum bisa ngobrol dengan mereka. Terpaksa bergantung pada artikel berbahasa Inggris dan Google translate. Eh, kok jadi ngomongin gue…

Anyway, AKB48 dan seluruh keluarganya itu bukanlah yang pertama. Jauh sebelum mereka, Idol culture dan Wota sudah hidup di Jepang.

Untuk yang tertarik untuk membaca sejarah Idol Group di Jepang, silakan lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/Japanese_idol

Untuk tulisan kritis tentang Johnny & Associates dan Hello!Project yang berperan besar dalam tumbuhnya Idol Group di Jepang, silakan baca artikel dari Guardian di tahun 2005: http://www.guardian.co.uk/music/2005/aug/21/popandrock3

Halaman Wiki Hello!Project: http://en.wikipedia.org/wiki/Hello!_Project
Halaman Wiki Johnny & Associates: http://en.wikipedia.org/wiki/Johnny_%26_Associates

Jadi, sebenarnya AKB48 banyak mencuri template Idol Group dari Johhy & Associates dan Hello!Project (terutama Morning Musume atau Momusu, Female Idol Group terbesar sebelum AKB48 lahir).

Cuma, Yasushi Akimoto atau Aki-P, sang pendiri AKB48 punya twitst yang membuat AKB48 menjadi sebesar sekarang: Idol You Can Meet Everyday.

Dia mendirikan teater kecil, tempat para anggota AKB48 manggung hampir setiap hari, di daerah Akihabara. Jadi, seterkenal apapun anggota AKB48, mereka akan tetap manggung di panggung kecil yang jarak antara penonton dengan panggung hanya satu meter.

Dia ingin AKB48 memiliki kedekatan, bahkan sampai mengenal nama fans berat mereka yang datang.

Nah, dengan Idol You Can Meet Everyday, lengkap sudah elemen Idol Group untuk membuat penggemar mereka jadi terobsesi. Apa saja elemen itu?

MYTH and STORY

Iya, Mitos dan Cerita. Kalau diperhatikan, AKB48 bergantung sangat besar pada mitos dan story, bukan sekadar musiknya. Narasi besarnya adalah anak-anak yang ingin menjadi bintang dan usaha keras mereka untuk mencapainya, serta halangan apa yang harus mereka lewati untuk mencapai cita-cita. Narasi ini diwarnai dengan ratusan, mungkin ribuan sub-plot, karena masing-masing anggota punya sub-plot sendiri.

Salah satu contoh sub-plot adalah cerita Sashihara Rino generasi ke 5 AKB48. Dia wajahnya tidak tipikal idol lainnya. Tapi karir dia menanjak terus sejak tahun 2007, saat dia diangkat menjadi anggota AKB48, terbukti di Pemilihan Umum Senbatsu AKB48, rangking dia menanjak terus, dari 27-19-9 sampai ke rangking 4 di tahun 2012.

Lalu dia terkena skandal, foto-foto yang dikirimkan ke pacarnya saat sebelum menjadi anggota AKB48 bocor ke media massa. Dibuanglah Sasshi ke HKT48. Ternyata, dia malah bisa mengangkat HKT48 menjadi lebih terkenal. Lalu, tahun ini, dia menjadi rangking 1.

Tentang Sousenkyo: http://www.hastalagadget.com/gadgets/akb48-sousenkyo/

Atau Sub-Plot Matsui Jurina dari SKE48, dia menjadi Ace/Center termuda di AKB48, saat dia baru berusia 11 tahun. Potretnya dia adalah anak berbakat pekerja keras yang dimusuhi oleh Wota karena menggeser ‘Ratu’ AKB48, Maeda Atsuko. Diwarnai dengan dipindahkan dari SKE48 ke AKB48, jatuh sakit karena bekerja terlalu keras, memaksa diri untuk tampil di konser padahal sedang sakit.

Atau Takajo Aki yang sedang di tengah konser saat Nenek kesayangannya meninggal.

Setiap anggota AKB48 mempunya sub-plotnya sendiri, dan semuanya bergerak dalam narasi ‘Usaha keras untuk menjadi bintang’. Dengan ratusan anggota, AKB48 tidak akan kehabisan cerita. Selalu ada kejutan baru dan cerita baru yang membuat penggemarnya mau tidak mau terus mengikuti mereka.

Dan manajemen AKB48 dengan cerdas merekam semua itu dalam bentuk video. Ke manapun anggota itu pergi, selalu ada tim kamera yang mengikuti pergerakan mereka di belakang layar. Hasilnya adalah sederetan film dokumenter AKB48. Beberapa di release ke bioskop di Jepang dan mencapai Box Office di sana. Beberapa yang lain dijual dalam bentuk Box Set DVD, mendampingi DVD konser mereka.

Ada juga yang disiarkan dalam TV show mereka, AKBingo.

AKBingo Video Episode 1-30: http://www.dailymotion.com/playlist/x2816j_Gozua_akbingo-eng-sub-episodes-1-30/1#video=xtaz6y Video sampai episode 99 bisa dilihat di user yang sama

Kalau tidak mau ketinggalan cerita, maka mau tidak mau harus diikuti terus.

Myth dan Story ini juga dibangun lewat posting blog resmi anggota (disponsori Ameblo), akun G+ resmi anggota (Disponsori Google), dan akun twitter anggota.

A very long and big reality show. Dan itu semua berperan dalam membangun Myth dan Story AKB48.


RITUAL

Bahkan dalam menonton teater dan konsernya pun ada ritual tertentu yang hanya dimengerti oleh penggemarnya.

Untuk ritual menonton Morning Musume: http://www.hello-online.org/index.php?/topic/14218-wotagei-chant-guide-for-morning-musume-anime-expo-2009/#entry731443
Untuk ritual menonton AKB48: http://melosnomichi.blogspot.com/2012/01/wotagei-guide-for-akb48-concerts-20.html

Lalu mereka juga biasa mengeluarkan single sesuai dengan ‘Hari-hari besar’ menurut AKB48. Ada single Sakura dan Perpisahan, ini biasanya keluar di musim semi, dengan lirik yang menceritakan perpisahan karena memang bertepatan dengan kelulusan sekolah setingkat SMU di Jepang. Ada single Bikini Song, biasanya dikeluarkan saat musim panas dan musim liburan di sana. Ada single Sousenkyo, yang dikeluarkan sesaat sebelum Pemilu AKB48 dan memuat tiket untuk memilih siapa yang pantas jadi nomer 1.

Untuk melihat beberapa Video AKB48: http://www.youtube.com/watch?v=-7YJkt-4R1A&feature=share&list=PL27DD8DA7F942CABB

Ritual lainnya adalah setiap menonton Teater AKB48. Hi touch, begitu mereka menyebutnya. Seperti Hi Five, tapi dilakukan dengan pelan. Sebelum penonton pulang, mereka bisa Hi Touch dengan seluruh anggota yang tampil di teater. Pada saat itu, para anggota pun mengucapkan terima kasih kepada penggemar karena sudah datang menonton dan meminta mereka untuk datang dan nonton lagi.

Ada lagi ritual handshake, di mana penggemar yang membeli tiket handshake (biasanya disertakan dalam CD single mereka) bisa bersalaman dan ngobrol one on one dengan anggota, dan setiap tiket berlaku untuk 10 detik bersalaman dan ngobrol. Mau lebih lama? Silakan beli CD lagi. :D

Ada cerita tentang seorang Wota JKT48, seorang lawyer muda, yang membeli ratusan CD single River untuk bisa bersalaman dengan semua anggota JKT48 minimal 10 kali masing-masing anggota. XD

Yap, mereka punya serangkaian ritual yang diikuti oleh semua penggemarnya. Dan sebagaimana layaknya ritual, dirancang untuk mudah diikuti.


CONGEGRATION

Keberadaan teater membuat penggemar bisa melakukan kongregasi (tauk ah Bahasa Indonesia-nya apa) dengan lebih sering. Pada saat inilah nilai, value dan norma diperkuat. Ya, nilai sebagai penggemar, fanatisme semua diperkuat pada saat banyak fans berkumpul.

Para penggemar jadi tidak merasa sendirian. Mereka menjadi semakin yakin dengan kegemaran mereka terhadap keluarga AKB48.

Semacam anak Harley atau anak motor yang hobi konvoi terus nongkrong bareng di tempat ngebir lah. Pada saat itulah penggemar saling mensupport, bahwa yang mereka lakukan tidak ada yang salah, dan mereka tidak sendirian.

Makanya, yang paling jenius dari AKB48 adalah teater kecil mereka, yang menjadi tempat kongregasi penggemar. Semacam tempat ibadahnya lah.

Nah, itu masih ditambah dengan event-event official mereka. Jadi, para anggota Official Fans Club bisa mengikuti berbagai kegiatan bersama para anggota keluarga AKB48. Mulai dari piknik bareng, ke musium, bebersih teater, sampai ke adu panco melawan anggota keluarga AKB48.

Kadang, penggemar bisa mendapatkan hadiah dari para anggota, yang dibuat dengan tangan oleh mereka sendiri. Dari sekadar pembatas buku bertuliskan tangan anggota AKB48, sampai kue dan onigiri yang dibuat oleh para anggota. Dan itu hanya bisa didapat oleh mereka yang hadir dalam kongregasi itulah.

****

Jadi, kombinasi Myth and Story, Ritual dan Kongegrasi yang dirancang dengan keren oleh AKS sebagai produser dari AKB48 dan keluarganya semua, membuat penggemarnya menjadi luar biasa fanatik dan terobsesi.

Oh, tentang seksualitas. Apakah penggemarnya menjadi fanatik dan terobsesi karena mereka itu cewek cakep dengan rok mini dan lompat-lompat di atas panggung? Well… seperti juga penggemar band dan grup yang lain, tentu saja ada yang begitu. Tapi kebanyakan sih karena  kombinasi 3 hal yang gue jelaskan di atas, bukan sekadar seksualitas. Paling tidak, dari orang-orang yang gue amati yah. Bahkan ada yang menolak sama sekali melihat atau membeli Gravure Photo Book (Buku foto berbikini) XD

Apalagi sekarang ada fenomena ‘The Rise of Female Wota’, di mana penggemar AKB48, Momusu, Momoclo z, Babymetal, Perfume dan idol group lainnya dibanjiri perempuan.

Elemen seksualitas di Idol justru dipotret sebaliknya. Tidak boleh ada skandal sedikitpun, sampai mereka punya renai kinshi jourei alias aturan anti cinta. Intinya, selama masih jadi idol, dilarang punya pacar. Purity.

Ini kalo kata gue sih ditarik dari tradisi Geisha di Jepang. Di mana Geisha ya tidak boleh berpasangan sama sekali selama dia jadi Geisha. Kalau mau menikah, ya berhenti jadi Geisha. Kalau toh dekat dengan seseorang, itu harus dirahasiakan.

Tentang Geisha: http://en.wikipedia.org/wiki/Geisha

We make Tumblr themes